mm-blog-beragam-manfaat-dan-dahsyatnya-istighfar

Kita seringkali mencari solusi yang berat, jauh, dan rumit atas segala persoalan hidup. Ketika belum dianugerahi keturunan, hal pertama yang langsung diingat adalah mencari pertolongan pada dokter kandungan. Sebagai orang yang sedang mencari pekerjaan, ingatan kita langsung melayang pada situs lowongan kerja dan beragam jobfair, bukan berusaha “merayu” Allah terlebih dahulu dalam sujud-sujud panjang kita.

Pergi ke dokter kandungan atau mengunjungi beragam jobfair bukanlah hal terlarang yang tak boleh kita lakukan. Tentu saja boleh, boleh sekali. Namun, sebagai step pertama dalam pencarian jalan keluar, selalulah libatkan Allah. Sebagai seorang muslim, sebenarnya kita dianugerahi satu “senjata” khusus yang menjadi wasilah atas terbukanya jalan keluar. “Senjata” ini sangat dekat dengan kita dan kita tentu familiar dengannya. Namun, kita jarang mengamalkannya karena mungkin ilmu kita masih terbatas tentang keutamaannya. Amalan tersebut bernama istighfar.

Istighfar adalah sebuah permintaan maaf kita atas segala kesalahan kita kepada Allah, Rabb yang telah menciptakan kita. Tentu kita punya dosa, itu sudah pasti. Jika Rasulullah saw., manusia yang dijamin masuk surga saja beristighfar 70 kali dalam sehari, lalu bagaimana dengan kita yang sama sekali tak ada jaminan masuk ke dalam surga? Apa kita sudah merasa aman atas segala doa kita?

Disebutkan dalam Q.S. Nuh ayat 10—12 bahwa dahsyatnya istighfar dapat menjadi wasilah untuk bertambahnya rezeki hingga memperoleh keturunan.

Maka aku katakan kepada mereka, ‘Mohonlah ampun (istighfar) kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan memperbanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula didalamnya) untukmu sungai-sungai’.” (Q.S. Nuh: 10—12)

Dalam sebuah hadits, Rasulullah saw. juga menyebutkan bahwa istighfar dapat menjadi wasilah akan terbukanya berbagai jalan keluar.

“Barangsiapa memperbanyak istighfar (mohon ampun kepada Allah), niscaya Allah menjadikan baginya pada setiap kesedihannya jalan keluar dan pada setiap kesempitan ada kelapangan dan Allah akan memberinya rezeki (yang halal) dari arah yang tiada disangka-sangka.” (Hr. Ahmad, Abu Dawud, dan Ibnu Majah). 

Kita sungguh membutuhkan istighfar. Sebagai manusia yang tak lupt dari kesalahan, istighfar sejatinya menjadi amalan harian yang tak terpisahkan dari kehidupan kita. Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma pernah berkata, “Di tengah kaum muslimin, ada dua alat pengaman, yaitu keberadaan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan istighfar. Tetapi sekarang, Nabi telah wafat, sehingga alat pengaman yang tinggal adalah istighfar (memohon ampun kepada Allah).”